Information Search

Monday, November 8, 2010

Ulangan harian agama hindu smp vii #3

SOAL ULANGAN HARIAN

AGAMA HINDU

Untuk smp kelas VII

PETUNJUK SOAL

PILIH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING BENAR

KIRIMLAH JAWABANMU KE ALAMAT EMAIL agung.sandywarman@gmail.com

atau tulis pada ruang comment yang disediakan.


 

PERTANYAAN


 

 

1.    Kidung yang digunakan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya adalah ...

    a. Wargasari    b. Sinom

    c. Dandang Gula    d. maskumambang


 

2. Dharma gita terdiri atas dua kata yaitu Dharma dan Gita. Kata Dharma berarti ...

    a. Kejahatan    b. kemampuan

    c. Kemahakuasaan    d. kebenaran


 

3. Dharma gita terbagia atas .... bagian

    a. Satu    b. dua

    c. empat    d. lima


 

4. Kakawin Ramayana termasuk jenis dharmagita...

    a. Sekar Alit    b. Sekar rare

    c. Sekar Madya    d. Sekar Agung


 

5.    ` di bawah ini merupakan tujuan Dharmagita, Kecuali ....

  1. Untuk memasyarakatkan ajaran Agama Hindu lewat seni suara
  2. Untuk memberikan sentuhan rasa kesucian serta kekhusukan dalam pelaksanaan upacara yadnya
  3. Untuk memberikan dorongan kepada umat agar lebih mencintai kebuadayaan warisan leluhur.
  4. Untuk menyombongkan diri sendiri.

6. Ada beberapa kekawin, kekawin Lubdaka dikarang oleh ....

    a. Mpu Sedah    b. Mpu Yogiswara

    c. Mpu kanwa    d.Mpu Tanakung


 

7. Nyanyian atau lagu-lagu suci di dalamnya terdapat ajaran-ajaran Agama / kebenaran, merupakan...... Dharmagita

    a. Fungsi    b. Bagian

    c. Peranan    d. Pengertian


 

8 Sekar madya disebut juga dengan ...

    a. Pupuh    b. kidung

    c. Wirama    d. Geguritan


 

9. Sekar Agung diikat oleh Guru Laghu. Tanda Guru dinyatakan dengan ....

    a. U    b. –

    c. – U    d. U—


 

10. Labuh vocal/ suara di akhir setiap baris, pada sekar alit disebut dengan ...

    a. Guru Dingdong    b. Guru Wisesa

    c. Guru Wilangan    d. Lingsa.

 

 

SOAL ULANGAN HARIAN

AGAMA HINDU

Untuk smp kelas VII

PETUNJUK SOAL

PILIH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING BENAR

KIRIMLAH JAWABANMU KE ALAMAT EMAIL agung.sandywarman@gmail.com

atau tulis pada ruang comment yang disediakan.


 

PERTANYAAN


 

 

1.    Kidung yang digunakan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya adalah ...

    a. Wargasari    b. Sinom

    c. Dandang Gula    d. maskumambang


 

2. Dharma gita terdiri atas dua kata yaitu Dharma dan Gita. Kata Dharma berarti ...

    a. Kejahatan    b. kemampuan

    c. Kemahakuasaan    d. kebenaran


 

3. Dharma gita terbagia atas .... bagian

    a. Satu    b. dua

    c. empat    d. lima


 

4. Kakawin Ramayana termasuk jenis dharmagita...

    a. Sekar Alit    b. Sekar rare

    c. Sekar Madya    d. Sekar Agung


 

5.    ` di bawah ini merupakan tujuan Dharmagita, Kecuali ....

  1. Untuk memasyarakatkan ajaran Agama Hindu lewat seni suara
  2. Untuk memberikan sentuhan rasa kesucian serta kekhusukan dalam pelaksanaan upacara yadnya
  3. Untuk memberikan dorongan kepada umat agar lebih mencintai kebuadayaan warisan leluhur.
  4. Untuk menyombongkan diri sendiri.

6. Ada beberapa kekawin, kekawin Lubdaka dikarang oleh ....

    a. Mpu Sedah    b. Mpu Yogiswara

    c. Mpu kanwa    d.Mpu Tanakung


 

7. Nyanyian atau lagu-lagu suci di dalamnya terdapat ajaran-ajaran Agama / kebenaran, merupakan...... Dharmagita

    a. Fungsi    b. Bagian

    c. Peranan    d. Pengertian


 

8 Sekar madya disebut juga dengan ...

    a. Pupuh    b. kidung

    c. Wirama    d. Geguritan


 

9. Sekar Agung diikat oleh Guru Laghu. Tanda Guru dinyatakan dengan ....

    a. U    b. –

    c. – U    d. U—


 

10. Labuh vocal/ suara di akhir setiap baris, pada sekar alit disebut dengan ...

    a. Guru Dingdong    b. Guru Wisesa

    c. Guru Wilangan    d. Lingsa.

 

 

Tuesday, November 2, 2010

Unsur-Unsur Waisnawa Yang terdapat Dalam Saiwa Siddhanta

Unsur-Unsur Waisnawa

Yang terdapat Dalam

Saiwa Siddhanta


 

Oleh :

I GUSTI NGURAH AGUNG SANDY WARMAN,S.Pd.H


 


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

Latar Belakang

Setiap kita lihat pelaksanaan Upacara Agama yang dielenggarakan di Bali,kita selalu merasakan takjub terhadap warna-warni penyelenggaraannya.Kita mungkin saja selalu bertanya-tanya mengenai hal adanya pelaksanaan upacara yang demikian kaya akan tradisi.

Bukankah dalam Weda disebutkan bahwa untuk menunjukan rasa bhakti kehadapan Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa cukup dengan mempersembahkan toyam phalam puspam (air,buah,bunga)saja.Tapi di Bali kita lihat bahwa pelaksana upacara agama selalu menggunakan upakara.

Kata upakara berasal dari 2 kata yaitu upa dan kara,upa berarti dekat dan kara berarti sarana.jadi upakara berarti sarana untuk mendekatkan diri kehadapan Hyang Widhi.Dan di Bali telah menjadi tradisi bahwa sarana yang digunakan dalam menunjukan bhakti kepada Hyang Widhi adalah Banten,Dimana Banten berati Bali/wali atau kembali.Semua yang ada didunia adalah anugerah dari Hyang Widhi dan sebagai manusia kita patut bersyukur dengan kembali menghaturkan persembahan kehadapan Hyang Widhi Wasa(siwa).

Dalam membuat upakara sebagai persembahan tidaklah menyimpang dari ajaran Weda karena sesungguhnya Banten itu merupakan pengejawantahan dari weda dan setiap bagian yang ada pada banten merupakan simbol daripada mantra-mantra yang mengantarkan sembah bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dilihat dari bentuk pelaksanaan upacara agama Hindu di Bali dan dari Sarana yang digunakan disebutkan bahwa Agama Hindu Di Bali menganut ajaran Saiwa Siddhanta.Sebelum menganut ajaran ini,di Bali terdapat beberapa sekta yang berkembang.

Dalam lontar Sad Agama disebutkan ada 6 sekta,yaitu:

1.sekta Sambhu

2.sekta Brahma

3.sekta Indra

4.sekta Bayu

5.sekta Wisnu

6.sekta Kala

Dalam Lontar Siwa Sasana disebutkan terdapat 7 sekta,yaitu:

1.sekta Siwa Siddhanta

2.sekta Siwa Pasapata

3.sekta Siwa Waisnawa

4.sekta Siwa Lepaka

5.sekta Siwa Canaka

6.sekta Siwa Ratna Hara

7. sekta Siwa Sambhu.

Dr.R.Goris (1926) menyebutkan bahwa di Bali terdapat 9 jenis sekta yaitu :

1.Sekta Saiwa Siddhanta

2.sekta Pasupata

3.sekta Bhairawa

4.sekta Wesnawa

5.sekta Bodha ( sogata )

6.sekta Brahmana

7.sekta Rsi

8.Sekta Sora / Surya

9.Sekta Gana Patya.

Kesemua jenis sekta ini merupakan unsur yang membangun siwa siddhanta.Hal ini dapat dilihat dari jenis upakara yang dipergunakan upacara yang dilakukan yang merangkul semua jenis sekta itu,contohnya ajaran sekta bhairawa terlihat dalam sarana yang digunakan yang berupa arak berem,tabuh rah.Kemudian pemakaian dupa yang merupakan ajaran dari sekta brahma.Lalu yang menjadi pertanyaan adalah unsur-unsur apa saja yang berkaitan dengan ajaran waisnawa dalam saiwa siddhanta?.


 


 


 

BAB II

PEMBAHASAN


 

Unsur-Unsur Waisnawa Yang terdapat Dalam Saiwa Siddhanta


 

Untuk melihat unsur-unsur Waisnawa yang terdapat dalam Saiwa Siddhanta perlu kiranya kita lihat dari 2 sisi,yaitu : Upakara dan Upacara.Dibawah ini akan penulis uraikan unsur-unsur Waisnawa dalam dua sisi tersebut.

1.Upakara

Dalam upakara dapat dilihat bahwa unsur-unsur Waisnawa ada pada penggunaan :

a.Sesayut Agung,bentuknya:memakai aled/alas sesayut,tumpeng agung yang dipuncaknya memakai telur itik direbus 1,4 kwangen,4 bunga yang berwarna hitam,pada saat dihaturkan bertempatkan di utara.Bentuk sesayut ini menggambarkan ciri-ciri dari Wisnu yang merupakan Dewa yang dipuja dalam sekta waisnawa.

b.Sesayut Ratu Agung,bentuknya:Menggunakan tiga nasi tumpeng dengan puncaknya diisi satu buah telur itik,Bunga cempaka yang ditempatkan pada empat penjuru mengelilingi tumpeng,dua kwangen disandarkan pada tumpeng,dua tulung,sasangahan sarwa galahan,sodan woh,berbagai jenis buah-buahan.Dipersembahkan pada Dewa Wisnu.

c.Canang Genten,bentuknya : memakai alas yang berupa ceper atau yang berupa reringgitan,disusun dengan plawa(daun),Porosan yang berupa sedah berisi apuh dan jambe diikat dengan tali porosan,disusun dengan tempat minyak,bunga dan pandan arum yang bermakna penyatuan pikiran yang suci untuk sujud bhakti kehadapan Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Brahma Wisnu dan Iswara.

d.Banten Pula Gembal;Terdapat beberapa bagian yang mewakili wisnu diantaranya adalah terdapat jajan yang menggambarkan senjata dan salah satunya adalah senjata cakra yang merupakan senjatanya Dewa Wisnu.adanya unsur waisnawa dipertegas lagi dalam puja Pula Gembal,yaitu

    "Om Ganapati ya namah swaha

     Om Ang brahma saraswat Dewaya Namah Swaha

     Om Ung Wisnu Sri Dewyo namah swaha

     Om Mang Iswara Uma Dewya namah swaha

     Om Om Rudra Rudga Dewya namah swaha

     Om Sri Guru Byo namah swaha"

e.Gayah Urip:mempergunakan seekor babi.diatas kepala babi tersebut ditancapkan sembilan jenis sate yang berbentuk senjata,yang penempatannya sesuai dengan pengideran dewata nawa sanga.salah satu dari sate tersebut berbentuk cakra (senjata Dewa Wisnu) dengan puncaknya Amparu ditancapkan disebelah utara (Untram).

f.Tirta:hampir disetiap upacara menggunakan tirta yang terbuat dari yang telah disucikan.Air merupakan lambang dari Dewa Wisnu.

g.Banten catur rebah : pada banten ini salah satunya menggunakan biyu lurut 4 bulih,diletakan diutara sebagai simbol Dewa Wisnu.

2.Upacara

Dalam upacara dapat dilihat bahwa unsur-unsur Waisnawa ada pada Bentuk upacara seperti dibawah ini :

a.Upacara Mapag Yeh : dilakukan oleh para krama subak yeh yang ditujukan kepada Dewa Wisnu.

b.Mabyukukung : menggunakan upakara berupa banten dapetan penyeneng,jerimpen,pangambyan,sodan,canang,raka putih kuning,toya anyar mawadah sibuh yang berisi muncuk daun dapdap.Yang dipuja adalah Hyang Sri Laksmi yang merupakan saktinya Dewa Wisnu.

c.Upacara yang dilakukan pada saat menanam padi:dilaksanakan pada sasih kaulu,kesanga,dan kedasa Dengan menggunakan segehan nasi kepalan berwarna hitam,ikan serba hitam,buah yang berwarna hitam,masawen (sawen=penanda) dengan kayu yang berwarna Hitam.Yang disembah atau dipuja adalah Hyang Guru Wisnu.


 


 


 

BAB III

PENUTUP


 

Kesimpulan

Sesuai dengan uraian pada Bab Pembahsan diatas,penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa

unsur-unsur Waisnawa yang terdapat dalam Saiwa Siddhanta dapat kita lihat dari 2 sisi,yaitu : Upakara dan Upacara

-Pada upakara unsur-unsur Waisnawa terdapat dalam ;Sesayut Agung,Sesayut Ratu Agung,Canang Genten,Banten Pula Gembal,Gayah Urip,Tirta,Banten catur rebah .

-Pada upakara unsur-unsur Waisnawa terdapat dalam : Upacara Mapag Yeh, Upacara Mabyukukung,Upacara yang dilakukan pada saat menanam padi.


 

SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN DALAM AJARAN AGAMA HINDU (TRI UPAYA SANDHI)

Tugas Mata Kuliah Nitisastra II

SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN DALAM AJARAN AGAMA HINDU (TRI UPAYA SANDHI)


 


 

Oleh

        I G.N.Ag. Sandy Warman, S.Pd.H


 


 


 

INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI

DENPASAR

        2008


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. Latar Belakang

Pemimpin adalah pelaksana fungsi kepemimpinan.Pemimpinlah yang menentukan keberhasilan suatu kepemimpinan.Untuk mensukseskan jalannya suatu kepemimpinan orang yang menjadi pemimpin haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu.Dalam kitab-kitab Nitisastra diuraikan beberapa syarat pemimpin yang ideal.Sebelum membahas tentang syarat-syarat pemimpin terlebih dahulu akan dikemukakan batasan wewenang Raja sebagai seorang pemimpin menurut teori Hindu Kuno dan kenyataan sejarah dari kerajaan-kerajaan Hindu.

Didalam kitab Substance of Hindu Polity oleh Chandra Prakash Bhambri dijumpai penjelasan tentang konsepsi kekuasaan Raja yang disebut Swamin.Swamin atau Raja dinobatkan oleh Purohito atau lembaga kepandetaan kerajaan Penobatan Raja oleh Purohito melalui upacara kenegaraan yang disebut "Raja Suya".Raja yang telah dinobatkan oleh Purohito mulai mempunyai kekuasaan dalam bidang pemerintahan.Meskipun berkuasa penuh,tetapi hanya sebatas dibidang kekuasaan negara saja.Sedangkan yang berkuasa dibidang rokhani adalah Purohito.

Kalau Swamin dinobatkan oleh purohito,sedangkan purohito dilantik oleh Raja melalui upacara Brhaspati Sawa.Raja berkuasa dalam bidang pembangunan material,sedangkan Purohito berkuasa dalam bidang pembangunan mental spiritual.

Dalam bidang kekuasaan politik Swamin dalam sistem Hindu Kuno berkuasa penuh dalam sistem Hindu Kuno,sedangkan Raja pada jaman Majapahit berkuasa dalam bidang legislatif.Hal ini dapat dibuktikan ,bahwa Raja adalah ketua dan anggota utama dari sapta Prabhu.Sapta Prabhu adalah salah satu dari unsur Troya Ratna yang berkuasa dalam bidang legislatif.Sedangkan unsur Troya Ratna lainnya adalah Sapta Mantri yang berfungsi untuk menjalankan kekuasaan executif dan sapta Upapati adalah bagian dari Troya Ratna yang berfungsi untuk menjalankan kekuasaan yudikatif.Kekuasaan penuh atau Chakra Wrrttin dalam ketatanegaraan Hindu tidaklah sama dengan kekuasaan mutlak yang berkonotasi sewenang-wenang.Kekuatan penuh memiliki batas-batas tertentu.Batas tersebut adalah Dharma.Raja tidak punya kekuasaan apa-apa kalau untuk Adharma.Raja hanya berkuasa untuk menegakan Dharma.

Dalam ajaran agama Hindu yang khususnya adalah ajaran niti sastra memberikan beberapa syarat-syarat menjadi pemimpin,yang salah satunya adalah Tri Upaya Sandhi.


 

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut diatas,penulis dapat menarik beberapa permasalahan yaitu :

  1. Bagaimanakah pengertian Tri Upaya Sandhi?
    1. Bagaimanakah pembagian Tri Upaya Sandhi serta penjelasannya?


 

  1. Tujuan Penulisan

Tujuan penulis menyusun Makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengertian Tri Upaya Sandhi.
  2. Untuk mengetahui pembagian Tri Upaya Sandhi serta penjelasannya.


 

  1. Manfaat Penulisan

Manfaat penyusunan Makalah ini adalah:

  1. Dapat mengetahui pengertian Tri Upaya Sandhi.
  2. Dapat mengetahui pembagian Tri Upaya Sandhi serta penjelasannya.


 

  1. Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah suatu metode yang gunakan untuk memperoleh data dengan cara mengumpulkan buku-buku yang bisa memberikan informasi tentang obyek yang diteliti.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Menurut Arikunto (dalam Putra,2001:21)menyatakan bahwa Data adalah hasil pencatatan penulisan baik yang berupa akta maupun berupa angka.

Data adalah bahan mentah yang diolah yang berupa keterangan-keterangan yang akan diolah berupa angka-angka maupun fakta-fakta (putra,2001:21).

Di dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode,yaitu :

1.5.1 Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah suatu metode yang gunakan untuk memperoleh data dengan cara mengumpulkan buku-buku yang bisa memberikan informasi tentang obyek yang diteliti.


 


 


 


 

BAB II

PEMBAHASAN


 

2.1 Pengertian Tri Upaya Sandhi

Didalam lontar Rajapati Cundala seorang raja harus memiliki tiga upaya untuk menghubungkan dirinya dengan rakyat (wiana,1992:198)


 

2.2 Bagian-bagian Tri Upaya Sandhi Dan Penjelasannya

Tri Upaya Sandhi yang merupakan tiga upaya untuk menghubungkan dirinya dengan rakyat,bagian-bagiannya adalah :

2.2.1 Rupa : Artinya untuk mendekati masyarakat pertama-tama keadaan merekalah yang harus dipahami terlebih dahulu,untuk mengetahui keadaan rakyat pada tahap awal adalah dengan jalan melihat keadaan diri dari masyarakat.Dengan mengetahui keadaan diri rakyat meskipun baru dari luar,cukuplah sebagai dasar pertimbangan untuk memulai mengadakan pendekatan dengan tepat.Karena keadaan pisik (rupa)nya itulah yang akan memberikan gambaran umum tentang keadaan rakyat.

2.2.2 Wangsa : kata wangsa berasal dari bahasa sansekerta dari kata wamsa yang artinya adalah stratifikasi sosial atau lapisan masyarakat.Maksudnya adalah agar pemimpin itu mendekati masyarakat berdasarkan lapisan sosial yang ada.untuk masyarakat timur yang masyarakatnya masih vertikal oriented artinya berorientasi keatas dengan pola anutan yang tinggi.Untuk mensukseskan suatu pendekatan maka pertama-tama dekatilah terlebih dahulu lapisan yang paling dominan dalam masyarakat tersebut.

2.2.3 Guna : Kata Guna dalam bahasa sansekerta berarti sifat,tabiat,kecakapan,keunggulan,manfaat.Kata "Gunaka"berarti kualitas.

Guna dalam Tri Upaya Sandhi dimaksudkan seorang pemimpin dalam melakukan pendekatan pada masyarakat dengan melihat tingkat pengetahuan dan jenis-jenis ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat yang dipimpin.Disamping itu sifat dan tabiat dari suatu masyarakat patut dijadikan landasan untuk melakukan pendekatan masyarakat.

Pendekatan dengan sistem itu amat penting agar potensi yang dipendam dalam masyarakat dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.


 


 

BAB III

PENUTUP


 

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut diatas penulisan memberikan kesimpulan sebagai berikut :

3.1.1 Tri Upaya Sandhi adalah tiga upaya untuk menghubungkan dirinya dengan rakyat.

3.1.2 Bagian-bagian dari Tri Upaya Sandhi adalah Rupa Wangsa dan Guna.


 

3.2 Saran-saran

Sesuai dengan pembahasan diatas maka yang menjadi saran penulis adalah agar bagaimana dalam kehidupan didunia ini kita mampu menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana sehingga akan tercipta kehidupan yang harmonis dengan mengaplikasikan Ti Upaya Sandhi tersebut.Walaupun tidak menjadi pemimpin bagi orang lain setidaknya kita mampu untuk memimpin diri kita sendiri untuk melakukan hal-hal yang positive,demikian niscaya kehidupan yang harmonis akan dapat tercipta.

AKIBAT TRI GUNA dan DASA MALA

  1. Pengertian Triguna

Triguna terdiri dari 2 kata yakni

"Tri" yang artinya tiga (3)

"Guna" yang artinya sifat

Jadi, Triguna artinya tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia. Antara sifat yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi dan membentuk watak seseorang. Apalagi diantara ketiga sifat-sifat tersebut terjalin dengan harmonis, maka seseorang akan dapat mengendalikan pikirannya dengan baik. Akan tetapi, hubungan antara ketiga sifat itu akan terus bergerak bagaikan roda kereta yang sedang berputar silih berganti, saling ingin menguasai sifat yang lain, selama manusia hidup.


 

  1. Bagian – Bagian Triguna
    1. Sifat Sattwa atau Sattwam

      Sifat sattwa atau sattwam yakni sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, terang, tentram, waspada, disiplin, ringan dan sifat-sifat baik lainnya.

    2. Sifat Rajah atau Rajas

      Sifat rajah atau rajas yakni sifat lincah, gesit, goncang, tergesa-gesa bimbang, dinamis, irihati, congkak, kasar, bengis, panas hati, cepat tersinggung, angkuh dan bernafsu.

    1. Sifat Tamah atau Tamas

      Sifat tamah atau tamas yakni sifat paling tidak sadar, bodoh, gelap, sifat pengantuk, gugup, malas, kumal dan kadang-kadang suka berbohong.


       

  2. Pengaruh Triguna pada Kehidupan Pribadi Seseorang
    1. Orang yang dikuasai oleh sifat sattwam biasanya berwatak tenang, waspada, dan berhati yang damai serta welas asih. Kalau mengambil keputusan akan ditimbang terlebih dahulu secara matang, kemudian barulah dilaksanakannya. Segala pikiran, perkataan, dan perilakunya mencerminkan kebijaksanaan dan kebajikan. Seperti tindakan Sang Yudistira dan Sang Krishna dalam cerita Mahabharata, dan tindakan Sang Rama dan Wibhisana dalam cerita Ramayana.
    2. Orang yang dikuasai oleh sifat rajah biasanya selalu gelisah, keinginannya bergerak cepat, mudah marah dan keras hati. Orangnya suka pamer, senang terhadap yang memujinya dan benci terhadap yang merendahkannya. Yang baik pada sifat rajah itu adalah sifat giat bekerja dan disiplin.
      1. Orang yang dikuasai sifat tamah biasanya berpikir, berkata, dan berbuat sangat lamban. Kadang-kadang enggan, malas, suka tidur, rakus, dan dungu. Besar birahinya, keras keinginannya, serta suka tidur campur dengan anak dan istrinya.
  3. Pengertian Dasa Mala

Dasa mala merupakan salah satu bentuk dan dari asubha karma. Dasamala merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila, yang cenderung pada kejahatan. Dosa bersumber dari kebingungan yang membangkitkan sifat rajah dan tamas.

  1. Bagian-bagian Dasa Mala
    1. Tandri, artinya orang yang malas, suka makan, dan tidur saja. Tidak tulus hanya ingin melakukan kejahatan.
    2. Kleda, artinya berputus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain.
    3. Leja, artinya berpikir gelap, bernafsu besar, dan gembira melakukan kejahatan.
    4. Kutila, artinya menyakiti orang lain, pemabuk dan penipu.
    5. Kuhaka, artinya pemarah, suka mencari-mencari kesalahan orang lain, berkata sembarangan, dan keras kepala.
    6. Metraya, artinya berkata menyakiti hati, sombong, iri, dan suka menggoda istri orang.
    7. Megata, artinya berbuat jahat, berkata yang manis tetapi pamrih.
    8. Ragastri, artinya bernafsu dan suka memperkosa.
    9. Bhaksa Bhuana, artinya suka menyakiti orang lain, penipu dan hidup berfoya-foya melewati batas.
    10. Kimburu, artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tak pandang bulu, pendengki dan irihati.
  2. Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Pribadi Manusia

Di zaman kaliyuga ini kelihatan dasa mala tumbuh dengan suburnya di hati manusia. Hal ini bisa kita lihat dalam masyarakat begitu banyaknya kejahatan-kejahatan yang terjadi. Seperti kasus Bom bali yang terjadi di Kuta, pada tanggal 12 oktober 2002. Para terdakwa dengan penuh senyum dan tawa bangga dapat melakukan perbuatan tersebut, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa penyesalan atas peristiwa yang menelan ratusan korban jiwa. Belum genap setahun tragedy bom kuta, terjadi lagi peristiwa yang menggegerkan kota Jakarta dengan terjadinya tragedy bom di Hotel JW Marriot, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2003. Ini menunjukan bahwa orang seperti itu sudah diliputi oleh dasa mala terutama Leja (pikiran gelap, bernafsu besar dan gembira melakukan kejahatan).

Di Era reformasi ini, orang mulai bebas berbicara, sering berkata sembarangan, saling mencaci maki, memfitnah yang dapat menimbulkan akibat sangat fatal, seperti rumah dibakar dan terbunuhnya orang lain. Tidak jarang ada pula orang yang berkata manis namun hatinya sepahit empedu, apa yang dikatakan bohong belaka. Kata manis yang diucapkan hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok. Akibat dari keterlibatan diri terhadap benda-benda duniawi, banyak orang mulai menghalalkan segala cara untuk memuaskan dirinya seperti melakukan penipuan, pemerasan dan perampokan. Hasil kejahatan tersebut tidak jarang digunakan untuk berfoya-foya, mabuk-mabukan, membeli narkotika dan kemudian melakukan pemerkosaan.

Pelanggaran hak asasi manusia sering kali terjadi, orang tidak lagi menghormati orang lain, banyak siswa tidak lagi hormat kepada guru, dan banyak anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Pelecehan seksual sering terjadi, bahkan orang tua memperkosa anaknya sendiri. Berita televisi setiap hari menayangkan orang-orang terlibat tindak kriminal, seperti perampokan, pemerkosaan, lebih-lebih yang terlibat perdagangan narkotika yang sulit diselesaikansepertinya patah satu tumbuh seribu. Pembunuhan terjadi dimana-mana, sepertinya sudah menjadi pemandangan yang biasa. HAM sudah tidak dihargai lagi bahkan sering diinjak-injak. Banyak manusia tidak lagi memikirkan etika, sopan santun, dan tata karma. Di zaman kaliyuga ini artha diagung-agungkan, seolah-olah artha menduduki tingkat pertama dan merupakan segala-galanya.

Pengertian & Bagian-2 Asta Aiswarya

AGAMA HINDU


 


 

  • GURU PENGAJAR :
  • SRADDHA
    ASTA AISWARYA
  • PENGERTIAN ASTA AISWARYA
  • BAGIAN-BAGIAN ASTA AISWARYA


     


     

  1. PENGERTIAN ASTA AISWARYA

sebelum membahas pengertian Asta Aiswarya, kita perlu tahu "apa atau siapa Tuhan itu???"

Untuk mengetahuinya, ada sloka-2 yang membahasnya, diantaranya :


 

"JANMADHYASYA YATAH"

Artinya :

    "(Tuhan ialah) dari mana mula (asal) semua ini"


 

  1. PENGERTIAN ASTA AISWARYA
  2. BAGIAN-BAGIAN ASTA AISWARYA

    Delapan sifat kemahakuasaan Tuhan, yaitu :

  • ANIMA artinya sifat tuhan maha kecil, bahkan lebih kecil daripada atom.
  • MAHIMA artinya sifat tuhan maha besar, segala tempat dipenuhi oleh-Nya dan tiada ruang yang kosong oleh-Nya.
  • LAGHIMA artinya sifat tuhan maha ringan bahkan lebih ringan daripada ether
  • PRAPTI artinya dapat menjangkau segala tempat.
  • PRAKAMYA artinya segala kehendak dan keinginan-Nya akan terwujud.
  • ISITWA artinya Tuhan maha utama dan Maha Mulia.
  • WASITWA artinya sifat Tuhan Maha Kuasa
  • YATRA KAMA WASAYITWA artinya segala kehendaknya akan terlaksana dan tidak ada yang dapat menentang kodratNya. Kodrat artinya takdir, dan takdir adalah kehendak Tuhan (Rta).

RESUME BABAD ARYA SENTONG

BABAD ARYA SENTONG

Resume,


ASTI". Diceritakan bahwa ratu di Kedir,itulah Negara Daha.Kama Swara Sri Darmawangsa Teguh ananta Wikrama tunggadewa,berputra Sri Erlangga mempersatukan Negara,semua para Ratu sama menghamba kepadanya di seluruh pulau jawa terutama makasar,sama menghamba sama Sang Prabu, dan setelah beliau di nobatkan oleh Sri Empu Bradahyang berasrana di Lembahtadis,permaisuri beliau berdwijati, serta engan senang hati beliau melakukan ke Pansitaan dan beliau berputra 2 orang anak laki-laki sama bagus parasnya bernama:

  1. Sri Haji Jayabaya dan adiknya bernama,
  2. Sri Haji Jayabaya

Sungguh ibarat sebagai Surya Kembar eduanya beliau tersebut nampak.

Bahwa Sri Haji Jayabaya beristana dinegara Kuripan sedang adiknya Sri Haji Jayabaya tinggal di istana negara Daha

Sri Haji Jayabayaberputra Ratu Dangdang Gendis kalah perang melawan Ken Arok.

Ratu Dandang Gendis berputra Ratu Wijayakatong gugur di dalam peperangan.

Dan Sri Jayabaya ada juga putranya yang lain yang dilahirkan dari istri sauaranya Karya Patin Tua bertempat di Wilatikta yang tertua bernama Sri Arya Koripan beristana di Wilatika,adiknya bernama Sang Arya Dharma dan beristana di Tulembang.Beliau berdua berpaman disaudarakan dengan Kryan Patin Tua.

Sri Kryan Patin Tua Gajah Mada berastrama di Wilatikta. Sri Arya Dharma berputra 7 orang masing-masing bernama:

1. Sri Arya Damar

2. Sri Arya Sentong

3. Sri Arya Baleteng

4. Sri Arya Tanwikan

5. Sri Arya Kutawaringin

6. Sri Arya Kapakisan

7. Sri Arya Benculuk


 

Sang Prabu dari Wilatikta beristana di Hutan Alastrik dan adiknya bernama Sri Arya Dhamar beristana di Tulembang. Patih Maworda di Wilatikta. Sang Prabu dan Sri Arya Damar berbapa disaudara dari perempuan dengan Patih Werda tergolong Wesia.

Dan ada pula patih bernama Tumenggung Suta, akan tetapi sudah melepaskan jabatanya, sebab Sang Prabu telah mendapatkan penggantinya ialah Patih Gajah Mada, kelahiran dari Patalaning Klapa. Dia lah yang mendapatkan kepercayaan dari Sang Prabu mengenai segala tugas berat maupun ringan

Diceritakan awal kedatangan Sri Arya Sentong di Bali diawali saat-saat Sang Ratu Bali berbalik brontak kepada Sang Prabu Sang Prabu Wilatikta. Kedatangan Sri Arya Sentong ke Bali bersama-sama dengan para Arya lainya untuk menggempur Sang Ratu Bali. Setelah semuanya aman dan para arya dan Patih Gajah Mada memenangkan pertempuran melawan Sang Ratu Bali lalu Sang Arya Damar dan Sang patih Gajah Mada kembali ke Wilatikta untuk melaporkan kepada Sang Prabu Wilatikta. Belum selesai pembicaraan Sang Arya Damar tiba tiba datang Sang Arya Sentong menghadap Sri Maharaja dan melapor bahwa di Bedahulu-Bali Turun seorang yang bernama Maha Denawa dengan bertingkah laku ngusak asik di Bali. Dan menimbulkan peperangan dengan Dalem Bedahulu. Setelah mendengar laporan dari Sang Arya Sentong lalu Sang Prabu mengajak semua untuk berangkat ke Bali hari itu juga untuk menggempur Maha Denawa. Dan akhirnya Maha Denawa kalah, lalu sang prabu bersama Sang Arya menuju ke Gelgel dan disana mendirikan Puri dan Para Arya Tinggal bersebelahan. Dan sesudah sekian lama menetap disana dan akhirnya sang prabu memerintahkan Sang Arya Damar (sekarang Sang Arya Kenceng) untuk mengatur penempatan para Arya, yaitu sebagai berikut:

  1. Sang Arya Sentong bertempat di desa Pacung, dan semenjak itu Sri Arya Sentong memakai sebutan I Gusti Ngurah Pacung.
  2. Sang Arya Beleteng bertempat di desa penatih.
  3. sang Arya Kutawaringin bertempat di desa Kapal.
  4. Sang Arya Belog/Tan Wikan bertempat di desa Abiansemal.
  5. Sang Arya Benculung bertempat di desa Tangkas (gelgel).


 

Akan tetapi Sri Arya Sentong sangat aku sayangkan, sebab ia perkasa laksana, tiada takut dengan musuh dan sangat berani teguh (kebal) dan tetap pendiriannya (pageh). Patutlah Dia kebahagian dana, dan Sri Arya Beleteng patut menjadi pati oleh Sri Arya Sentong. Sesudah beberapa lama kemudian diceritakan kebesaran Kerajaan I Dewa Agung Di Klungkung. Dilaksanakan oleh para tanda Mentri sekalian ialah Arya Setong, Sri Arya Jlantik, setelah menaklukkan sasak, dan Nusa yang dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Jelantik, serta I Ngusti Ngurah Pacung (Arya Sentong) bersama para baudanda lainnya yang menjujung kehendak Dalem, Dalem sangst berterima kasih serta memberikan anugrah kepada I Gusti Ngurah Jlantik sebuah keris berkepala Mas pusaka keliliran bernama Sitan Pekadang dan I Gusti Ngurah Pacung di berikan hadiah sebuah keris bernama Si Sekar Sandat sedang I Gusti Ngurah Kanca diberikan panggawin (tombak) bernama Baru Jaruju. Entah selang berapa lamanya tibalah saatnya kadatangan kaliyuga, timbul pikiran jahat I Gusti Kanca terhadap I Gusti Ngurah Jelantik dan I Gusti Ngurah Pacung yang menyebabkan demikian oleh karena lamaran peminangan I Gusti Kanca ditolak oleh I Gusti Ngurah Jelantik karena putrinya I Gusti Ngurah Jelantik telah dipakai istri oleh I Gusti Ngurah Pacung, itulah yang menyebabkan I Gusti Kanca sangat merasa kecewa dan mendendam lalu melaporkan (laporan palsu) kepada Dalem, dikatakan bahwa I Gusti Ngurah Jelantik bersama I Gusti Ngurah Pacung akan berbalik (memberontak) terhadap Dalem. Dari kecintaanya Dalem kepada I Gusti Kanca laporanya dipercaya dan dititahkanya I Gusti Kanca untuk merusak I Gusti Ngurah Jlantik, lalu ia minggat pada malam hari bersama dengan ayahnya di denbukit di tempatkan di Blahbatuh. I Gusti Ngurah Pacung diusir oleh Dalem pergi ke Nusa selama 1 bulan disana, akan tetapi belum cukup lamanya datang utusan I Dewa Agung ke Nusa menjemput agar segera datang menghadap ke Klungkung, baru tiba dijumpai harapan malam, disana I Gusti Ngurah Pacung menginap sedang utusan bertolak ke Klungkung melaporkan kepada I Dewa Gede Agung bahwa I Gusti Ngurah Pacung sudah datang dan malam ini mengginap di jumpai.Keesokan harinya datang lagi utusan I Dewa Agung untuk menjemputnya, utusan matur: Ya I Gusti Ngurah Pacung menjawab; Kamu utusan, aku berpesan kepadamu sampaikan kehadapan I Dewa Agung, sebagaimana maksud beliau menghendaki aku kembali lagi ke Klungkung, katakanlah bahwa aku mohon diri (pamitan) dan biarkanlah aku mengembara, dan dimanapun nanti aku mendapat tempat, tidak akan menggurangi baktiku kepada I Dewa Agung, sekian dan putusan bertolak kembali.

Syah dan bahwa I Gusti Ngurah Pacung bertolak dari jumpai ke utara menyelusuri pesisir pantai tiba di pantai Lebih di perjalanan mandek di tahan oleh Betara Kala "Hai Pacung kamu kemana"? I Gusti Ngurah Pacung matur sembah; Ya Ratu Paduka Batara, maafkan agar batik tidak terkena kutuk, bahwa batik Paduka Batara mendapat murka serta diusir oleh I Dalem Klungkung dan hamba akan kembali ke Majapahit. Batara Kala bersabda: kalau begini nantikan tidak ada Pacung lagi di Bali, dicabutnya suing (taring) Batara Kala sebelah kiri lalu menjadi besi tombak dan di anugrahkan kepada I Gusti Ngurah Pacung, diberinama I Ulang-Ulang Gugub seraya sabdanya: Kamu Ngurah Pacung inilah selaku senjatamu dalam perjalanan dan aku peringgatkan kepadamu membawa senjata ini di dalam perjalanan sama sekali kamu tidak boleh minggir, setelah itu Batara Kala menghilang.

I Gusti Ngurah Pacung melajutkan perjalanan menuju kearah barat, setibanya di sebelah utara Bedahulu berpapasan dengan I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh yang datang dari arah Barat bergayot (rembat) dengan iringan penggawin dan mamas bo, dan parekannya menyuruh I Gusti Ngurah Pacung supaya minggir, akan tetapi I Gusti Ngurah Pacung sama sekali tidak menghiraukan permintaan parekan tersebut sehingga terjadi pertengkaran mulut antara parekan atau iringan I Gusti Ngurah Jlantik dengan I Gusti Ngurah Pacung oleh karena masing-masing bertahan sama-sama tidak suka minggir menyebabkan sangat marahnya kedua belah pihak, lalu I Gusti Ngurah Pacung direbut oleh iring-iringan Blahbatuh, lalu I Gusti Ngurah Pacung menunjukan (nebahang) tombak anugrah Batara Kala ( Olang–olang Guguh), seketika bala Blahbatuh jatuh (rempak) dan tidak berani berkutik serta jongkok semuanya.

Melihat itu marahlah I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh , lalu terjadi perang tanding I Gusti Ngurah Pacung dengan I Gusti Ngurah Jlantik, saling tusuk dengan tombak keris akan tetapi tidak ada yang luka sehingga masing-masing sudah sama payah lalu I Gusti Ngurah Jlantik berkata " hai kamu siapa, siapa sebenarnya kamu ini sangat sakti dan teguh. I Gusti Ngurah Pacung segera menjawabnya:" aku I Gusti Ngurah Pacung, diam di desa Pacung Gelgel, dan kamu siapa dijawab oleh I Gusti Ngurah Jlantik " aku I Gusti Ngurah Jlantik berdiam I Blahbatuh".

I Gusti Ngurah Pacung menyahut lagi, kalau demikian bahwa kamu bersaudara denganku, dan hentikanlah berperang . Sesudah selesai Omong-omong lalu masing-masing memakan sirih, setelah selesai makan sirih pembicaraan dilanjutkan pula kemudian bersantap bersama sama. Memperhatikan keadaan demikian itu semua iringan Blahbatuh bersenang hati. I Gusti Ngurah Pacung berkata:" Ngurah Jlantik marilah kita sekarang bertukaran ikat pinggang kita masing-masing POLENG JLANTIK saya yang membawa, dan putih Pacung Ngurah yang membawanya, ini kita jadikan peringgatan (tunggul) dan mulai kini dan kemudian bahwa pereti sentana (keturunan kita) jangan lagi berperang antara I gusti Ngurah Jlantik dengan Ngurah Pacung, setelah itu baru masing-masing menukarkan sabuk (ikat pinggang).

Sesudah selesai pembicaraan (agreetmen), I Gusti Ngurah Jlantik kembali pulang ke Blahbatuh dan tempat bekas peperangan ini dinamainya Marga Sengkala.

Diceritakan sekarang perjalananya I Gusti Ngurah Pacung terus menuju arah barat, setibanya dihutan Kekeran Desa Tabanan, disana beliau menetap dan mendirikan bangunan (Puri), dan belum sampai 3 tahun beliau tinggal di Kekeran, banyaklah orang-orang turut serta kurang lebih 60 kuren (KK), lalu beliau berpindah lagi menuju arah ketimur berhenti di Pacung Menguwi , lama kelamaan berpisah lagi diiringi oleh rakyat semua menuju keutara tempatya disebelah timur desa Banjar Sayan Mengwi bekas tempat kediaman I Gusti Ngurah Pacung disana okor dank ini dinamai Subak Pacung lalu berhenti di hutan belantara, dimana rakyat sama mendirikan rumah (kubu) dan setelah sama selesai, lalu mendirikan istana (puri) dan tempat ini diberikan nama desa parasian. Lama kelamaan beliau berpuri di desa Parariyan suah mempunyai rakyat 5000 lalu beliau dinobatkan (mabiseka) dengan gelar I Gusti Ngurah Pacung Gede beristana di Peryan.

Disebutkan I Gusti Ngurah Made Pacung dan I Gusti Ngurah Nyoman Pacung keduanya adalah sauara dari I Gusti Ngurah Pacung Gede masing-masing mendapat kawibawaan (jabatan).

Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede mempunyai seorang raka, kemudian setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat, maka putranya ( I Gusti Ngurah Raka ) dinobatkan untuk menggantikan ayahnya bergelar I Gusti Ngurah Raka Pacung.

I Gusti Ngurah Gede Raka Pacung berputra seorang laki-laki bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung, mengantikan Putranya Setelah Wafat.

I Gusti Putu Pacung berputra 2 orang nama, I Guti Ngurah Pacung Rai. Kemudian setelah I Gusti Ngurah Putu Pacung wafat di gantikan oleh putranya yang Tertua ( I Gusti Ngurah Pacung Gede).

Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede berputra 4 orang laki-laki

  1. I Gusti Ngurah Pacung Sakti
  2. I Gusti Ngurah Made Beleleng berdiam di Sembung dengan rakyat 800.
  3. I Gusti Ngurah Nyoman Bayan berdiam di Bayan memegang rakyat 600
  4. I Gusti Ngurah Ketut Babahan memegang rakyat 200.

Setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat diganti oleh putranya bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti menduduki istana Peryan, beliau memperistrikan seseorang bernama I Gusti Luh Penatih mempuyai 7 orang putra, 6 laki-laki 1 perempuan, namanya:

  1. I Guti Ngurah Pacung Gede
  2. I Gusti Ngurah Rai
  3. I Gusti Ngurah Abianbatuh
  4. I Gusti Ngurah Nengah Abianbatuh
  5. I Gusti Luh Abiantubuh
  6. I Gusti Ngurah Tahunan dan
  7. I Gusti Ngurah Bukian.

Bahwa I Gusti Ngurah Rai kedana oleh I Gurah Pacung Gede oleh karma beliau tidak mempunyai keturunan dan I Gusti Ngurah Abiantubuh di dudukan selaku Manca memegang rakyat 200, I Gusti Ngurah Nengah Abiantubuh ditempatkandi Bluangan dengan rakyat 20 lantaran beliau sangat bodoh dan kesukaanya memelihara itik. I Gusti Ngurah Tahunan diberi kedudukan di Peryan menggurus rakyat 200. I Gusti Ngurah Bukian diberi kedudukan Manca di Peryan memegang rakyat 100. I Gusti Luh Abiantubuh diambil dipakai istri oleh I Gusti Ngurah Agung Gede Blambangan di Menguwi dan diganti namanya nenjadi I Gusti Luh Pacung mempunyai 2 orang anak:

  1. I Gusti Ayu Pacung
  2. I Gusti Agung Gede Pacung

Diceritakan selanjutnya, timbul murkanya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Babahan, semua rakyat di ambil oleh I Gusti Ngurah Pacung

Sakti, dan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan juga menggalami nasib yang sama, yang menyebabkan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan pergi menggungsi ke Den Bukit dengan penggikut rakyat 400. lalu menggungsi lagi ke Desa Patemon ( daerah Buleleng). Dikatakan bahwa menurut cerita bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti mempuyai seekor anjing bernama I Balang Uyang, sebab warna belangnya slalu berobah-obah menurut matahari, maka oleh karnanya I Belang Uyang sangat disayang pengaruhnya dan diandel setiap I Gusti Ngurah Pacung Sakti berburu.

Pada suatu hari bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang bersantap, bahwa I Belang Huyang yang selalu berada disamping beliau, melihat seekor binatang kelasih di atas tembok gedong lalu diterjangnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang masih sedang santap, hal mana yang menimbulkan amarah I Gusti Ngurah Pacung Sakti , segera menembak I Belang Huyang dan seketika itu mati.

Setelah itu I Belang Huyang mati, barulah dilihat oleh I Gusti Ngurah Pacung sakti dan seekor kelesih diatas tembok gedong amatlah sedih hati beliau sambil memukul paha tentang tertembak matinya I Belang Huyang, dimana lantas beliau menyuruh hambanya menggubur bangkai anjing itu disebelah Barat daya Puri Peryan disertai dengan bebanten depungan upacara lengkap, pakaian satu rangsuk, satu barong gong Tirta penglepas dan sarwa prani, Demikianlah kuburan I Belang Huyang menjadi kramat (angker) hingga sekarang.

Sesudah sekian lama di ceritakan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti marah kepada saudaranya bernama I Gusti Ngurah Buleleng di Sembung, sehingga masing masing dijaga oleh rakyatnya. Sesudah lebih dari tiga hari lamanya penjagaan dilakukan redalah amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap I Gusti Ngurah Buleleng, yang menyebabkan reda amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti karena tidak mampu menyerbu I Gusti Ngurah Buleleng, sebab I Gusti Ngurah Buleleng satu satunya yudha tertunggal di Peryan yang sangat diandalkan oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti, itulah rakyat penabengnya (tamengnya) diperintahkan pulang. Oleh karana demikian bahwa penjagaan di Bencingah Perian kosong, sedangkan penjagaan di Sembung masih tetap aktip atau siap tempur.

Diketahui penjagaan dibencingah Peryan sudah kosong, lalu pasukan I Gusti Buleleng memasuki Peryan. Teryata bahwa bencingah Peryan suah di kosongkan, disitu lalu I Gusti Ngurah Buleleng mengerahkan pasukannya atau rakyatnya meyerbu kepuri, diketemui I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang berada di puri Jaba tengah dapat ditewaskan dan mayat beliau ditimbuni dengan runtuh-runtuhan tembok, seketika itu meledaklah timbunan itu dan dilihat oleh rakyat banyak bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti terbang menunggangi Naga Kaung kearah timur laut, memakai lancingan( kancut) geringsing wayang, lacingnya (kacutnya) engsut (tertinggal) diatas pohon bringgin didesa Tuka.

    Demikian dapat dikatakan bahwa beliau memperoleh surga. Keesokan harinya, diceritakan bawa putra-putra dari I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang berada di Peryan, tiada angan tinggal di Peryan lalu sama meningalkan desa Peryan meninggalkan Kraton dan sebuah pemerajan yang ada disana yang kini disebut perang Pura Sari menggungsi:

  1. I Gusti Ngurah Pacung Gede menuju ke Payangan, diiringi oleh rakyat 400 kepala keluarga.
  2. I Gusti Ngurah Rai ikut ke Payangan.
  3. I Gusti Ngurah Bukian menuju ke Subania-Tabanan dengan rakyat 100 Kepala keluarga.
  4. I Gusti Ngurah Tauman menuju ke Bukian (Payangan) dengan rakyat 200 kepala keluarga dan berganti nama dengan nama I Gusti Ngurah Bukian.
  5. I Gusti Ngurah Abianbatuh menuju ke Ubud dengan rakyat 200 kepala keluarga melindungi diri kepada I Gusti Sampalan.
  6. I Gusti Ngurah Abiantubuh masih tinggal di Beluangan menghamba kepada pamanya I Gusti Ngurah Buleleng.


 

Diceritakan sekarang I Gusti Agung Pacung semasih kanak-kanak dipermintakan kepayangan kepada I Gusti Ngurah Pacung Gede oleh ayahnya I Gusti Agung Gede Blambangan dan sesudah dewasa I Gusti Agung Pacung di Payangan menderita sakit cacar dan meninggal dunia. Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede tinggal di Payangan mepunyai 3 orang putra:

  1. I Gusti Ngurah Pacung Oka
  2. I Gusti Ngurah Rai
  3. I Gusti Ngurah Taro, bertempat di Taro dengan rakyat 200 kepala keluarga.

Sesudah wafat I Gusti Ngurah Pacung Gede diganti oleh putranya bernama I Gusti Ngurah Pacung Oka penyeneng di Payangan bergelar I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka.

    Diceritakan I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka membuat sawah disebelah Timur Payangan disana beliau memunggut besi calon keris dan disimpan dibawah kasur. Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka menggambil istri pepadan, pada hari perkawinan (Pawiwahan) tidak ada alat untuk di pakai nigas ( menusuk tikar dadakan) lalu inggat menaruh besi calon keris yang di taruh di bawah kasur terus diambil terdapat bahwa besi itu sudah menjadi keris, luk lelima, ganja celok, panggeh mailut.

Keris inilah dipakai nigas (menusuk tikar dadakan) alat upacara perkawinan, tiba-tiba meninggal pengantin istri ( I Gusti I luh) semenjak itu bahwa keris itu diberinama" Baru Pas" sedang sawah tempat besi itu terpunggut diberinama sawah"Kasur Sari" Selain itu juga membuat swah disebelah selatan diberinama"I Biyanglalah dan Jaring Sutra".

Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka berkuasa, timbul kemarahan I Gusti Agung Blambangan terhadap I Gusti Ngurah Gede Oka membuat fitnah dan dilaporkan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka bertidak semau-maunya tidak suka kena ayahan dan lain-lain, di laporkan terhadap I Dewa Agung Gede di Klungkung.

I Dewa Agung Gede menerima laporan I Gusti Agung Gede Blambangan, lalu diperintahkan rakyat Nyalian dan Bangli untuk menggempur Payangan, dan I Gusti Ngurah Taro membrontak terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, itu makanya rakyat Nyalian dan Bangli ditarik oleh I Gusti Ngurah Taro.

Hal ini diketahui oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, lalu beliau meninggalkan kraton dan pemerajan meninggalkan pemerajan menggungsi ke desa Karangsari Bangli diiringi oleh rakyat 400 kepala keluarga. Sesudah keris I Bayu Pas ketinggalan di puri payangan, yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka sebatang tombak anugrah Ida Batara Kala yang bernama I Olang –olang Guguh

    Setelah lama berada di Karangsari menggalih pula menuju ke semuan tanah bekas tempat kediaman beliau disana angker. Dan sesudah lama berdiam disamuan lalu dijemput oleh I Mekel Telugtug bersama I Gusti Ngurah Babalang supaya beliau bersedia pindah berkedudukan di Carangsari untuk menggurus atau mengguasai rakyat Carangsari bersama Pedanda Gerya Gede. Diceritakan bahwa I Gusti Ngurah Rai menggungsi ke Petang diiringi oleh rakyat 40 kepala keluarga Setelah lama di Petang menggalih pula ke Pangsan.

AMPURA PING BANGET KEKIRANGAN TITIANG NGUNGGAHANG RESUME BABAD PUNIKI

SUKSMA

Monday, November 1, 2010

PERKENALAN

AGAMA HINDU DISEBUT JUGA SANATANA DHARMA, YAITU AJARAN KEBENARAN YANG ABADI